Adanya desas desus sekolah yang akan diberlakukan kembali di awal tahun 2021 ini, ternyata memang sudah direncanakan oleh pemerintah. Pembelajaran yag dilakukan secara online selama hampir Sembilan bulan ini, memang memiliki lika – likunya tersendiri. Tapi mau bagaimana lagi, ini diberlakukan karena memang pandemi COVID – 19 yang membuat kita tidak bisa melakukan kegiatan banyak orang dalam satu ruangan. Ini pun diberlakukan untuk keselamatan diri sendiri dan juga orang lain yang berada di sekitar kita.

Untuk rencana yang sedang digarap oleh pemerintah ini, tentang pemberlakukan kembali sekolah di awal tahun 2021 ini sudah mendapatkan lampu hijau dari Komisi X DPR RI. Tentunya Komisi X DPR sendiri memberikan permintaan agar persiapan yang dilakukan, untuk memberlakukan kembalinya sekolah ini dipersiapkan dengan matang. Khususnya pada protokol kesehatan yang harus diberlakukan dengan ketat.

“Kami mendukung pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka,” * ucap Syaiful Huda selaku ketua Komisi X DPR RI.

“Tetapi hal itu harus dilakukan dengan protokol Kesehatan ketat karena saat ini penularan wabah Covid-19 masih terus berlangsung, bahkan menunjukkan tren peningkatan dalam minggu-minggu terakhir ini,” * Syaiful menambahkan.

Pembelajaran yang berlangsung selama pandemi ini secaraonline ini, memang sudah disadari oleh Syaiful. Sebab kegiatan belajar dengan online atau jarak jauh ini, tidak memberikan hasil yang efektif. Sehingga pembelajaran yang akan dilakukan dengan langsung nantinya ini benar – benar akan diutamakan terlebih dahulu di daerah – daerah. Karena mempunyi sarana prasarana yang tidak mendukung, untuk melakukan pembelajaran secara online.

Namanya saja sudah online, tentunya fasilitas seperti kuota juga jaringan yang stabil itu harus menunjang. Sehingga pembelajaran bisa berlangsung, tetapi bila ini tidak bisa mendukung maka hasil dari pembelajaran akan nihil. Sudah diketahui bahwa pelajaran tidak bisa terlewatkan begitu saja hanya karena koneksi atau jaringan yang tidak stabil.

“Di beberapa daerah siswa selama pandemi Covid-19 benar-benar tidak bisa belajar karena sekolah ditutup,” * ucap Syaiful.

Menjadi hal yang dinantikan – nantikan oleh murid dan mahasiswa, dimana bisa merasakan kembali belajar dengan tatap muka langsung. Agar mereka pun bisa mendapatkan hasil dari pembelajaran yang efektiv.

“Kondisi ini membuat mereka seolah terlepas dari rutinas dan kedisplinan pembelajaran. Pembukaan kembali sekolah tatap muka akan membuat mereka kembali pada rutinitas dan mindset untuk kembali belajar,” * tutur Syaiful.

Karena pembelajaran tatap muka langsung ini akan diberlakukan di tengah – tengah pandemi COVID – 19, membuat protokol kesehatan dan juga alat – alatnya harus bisa menunjang. Penerapannya pun harus diberlakukan secara ketat dan tegas. Peralatan yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan pembelajaran tatap muka secara langsung di tengah pandemi ini, seperti adanya bilik disinfektan, sabun serta wastafel untuk cuci tangan jangan sampai melupakan wastafelnya itu harus ada air yang mengalir dengan baik. Lalu ada satu yang jangan sampai terlupakan dan terlewatkan, pola pembelajaran seperti apa yang nantinya akan diberlakukan. Tentunya pola tersebut harus fleksibel ketika dilakukan.

Letak kursi dan meja juga menjadi perhatian oleh sekolah, karena tempat duduk mereka itu harus tetap menerapkan physical distancing. Sehingga di dalam kelas jarak pun bisa tetap terjaga, jangan sampai ada siswa yang letak duduknya berdekatan.

“Waktu belajar juga harus fleksibel, misalnya siswa cukup datang sekolah 2-3 seminggu dengan lama belajar 3-4 jam saja,” * ucap Syaiful.